JAKARTA - Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau kembali menimbulkan kekhawatiran publik, tidak hanya karena mengganggu jarak pandang dan aktivitas warga, tetapi juga ancaman kesehatan yang kerap terabaikan.

Hujan abu vulkanik yang dihasilkan ternyata menyimpan bahaya tersendiri bagi organ pernapasan.

Berbeda dengan debu jalanan biasa, abu vulkanik Gunung Anak Krakatau mengandung silika bebas (crystalline silica).

Partikel mikroskopis ini, yang terdiri dari pecahan kaca dan batuan tajam, memiliki ukuran sangat kecil sehingga mudah menembus pertahanan tubuh seperti bulu hidung dan masuk hingga ke alveolus di paru-paru.

Magma Anak Krakatau yang kaya akan material silika kristalin membuat partikel ini sulit dihancurkan oleh sistem imun tubuh.

Paparan silika bebas dapat memicu peradangan kronis pada jaringan paru-paru. Dalam jangka pendek, hal ini dapat menyebabkan batuk, sesak napas, kekambuhan asma, serta iritasi mata dan kulit.

Sementara itu, paparan jangka panjang berisiko menimbulkan Silikosis, penyakit permanen yang menyebabkan pembentukan jaringan parut pada paru-paru dan penurunan fungsi organ pernapasan.

Oleh karena itu, masker kain atau masker bedah biasa dinilai tidak cukup efektif melindungi dari abu vulkanik karena pori-porinya yang terlalu besar.

Bandara Soekarno-Hatta Ditutup Sementara