JAKARTA - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terus memantau aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda.

Hingga pemantauan terakhir, sistem Identifikasi Data Seismik Laut/Peringatan Dini untuk Tsunami (IDSL/PUMMA) di Rakata belum menunjukkan anomali muka air yang berpotensi menimbulkan tsunami tambahan akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Sistem IDSL/PUMMA di Rakata memiliki peran krusial karena lokasinya yang strategis di sekitar sumber potensi bahaya.

Sistem ini berfungsi sebagai jembatan pemantauan volcano-tsunami antara Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) dan BMKG.

Periset Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Semeidi, menjelaskan bahwa IDSL/PUMMA di Rakata adalah satu-satunya sistem monitoring volcano-tsunami di Selat Sunda.

"Keberadaan IDSL/PUMMA sangat dekat dengan sumber potensi tsunami, sehingga bisa cepat mendeteksi. Keberadaannya juga menjembatani PVMBG dan BMKG dalam monitoring dan peringatan dini volcano-tsunami di Selat Sunda," ujar Semeidi dalam keterangan tertulis, Kamis (10/9/2026).

Tim pemantauan telah mengamati aktivitas Gunung Anak Krakatau dan kemungkinan anomali muka air sejak 4 September 2026, seiring laporan PVMBG mengenai peningkatan aktivitas gunung api tersebut.

"Sejauh ini, walaupun ada peningkatan aktivitas gunung api sebagaimana dilaporkan PVMBG, data IDSL/PUMMA tidak menunjukkan anomali yang berpotensi menimbulkan bencana tambahan seperti tsunami," tegas Semeidi.

Selain kedekatan dengan sumber potensi bahaya, kemampuan sistem pemantauan di kawasan Krakatau kini didukung infrastruktur komunikasi yang lebih baik dibandingkan tahun 2018.