TOKYO – Gelombang kebangkrutan perusahaan di Jepang terus meningkat tajam. Data terbaru dari Tokyo Shoko Research mencatat, sebanyak 1.028 perusahaan dinyatakan bangkrut pada periode yang dilaporkan, dengan total utang mencapai 236,6 miliar yen atau setara dengan Rp26,4 triliun (dengan asumsi kurs Rp111,75 per yen).

Angka ini menunjukkan peningkatan signifikan sebesar 6,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Fenomena ini juga menandai dua bulan berturut-turut di mana jumlah perusahaan yang bangkrut menembus angka 1.000 kasus.

Total utang perusahaan yang bangkrut melonjak drastis hingga 41,4 persen secara tahunan (year-on-year).

Pemicu utama lonjakan utang ini salah satunya adalah kebangkrutan Zentoshin, sebuah perusahaan penyedia sistem transaksi kartu kredit yang berpusat di Osaka.

Perusahaan yang melayani banyak restoran dan pelaku usaha lainnya ini menyatakan bangkrut pada Juli lalu dengan beban utang fantastis sebesar 115,16 miliar yen atau sekitar Rp12,87 triliun.

Perusahaan Riset Kredit Teikoku Databank Ltd memprediksi kebangkrutan Zentoshin berpotensi menjadi kasus terbesar di Jepang sepanjang tahun ini.

Selain faktor tersebut, kekurangan tenaga kerja juga menjadi penyebab signifikan kebangkrutan, mencatat rekor 63 kasus pada Juli.

Dari jumlah tersebut, 36 kasus disebabkan oleh kenaikan biaya tenaga kerja, angka yang berlipat ganda dibandingkan tahun sebelumnya.