JAKARTA - Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, Banten, dilaporkan mengalami serangkaian erupsi sejak Jumat (4/9/2026) hingga Sabtu (5/9/2026) dini hari.

Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau ini menjadi perbincangan hangat di media sosial, bahkan sejumlah warganet mengaitkannya dengan suara dentuman yang dilaporkan terdengar di berbagai wilayah.

Berdasarkan data MAGMA Indonesia milik Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), tercatat sedikitnya 10 kali erupsi Gunung Anak Krakatau dalam rentang waktu tersebut.

Erupsi terakhir dilaporkan terjadi pada Sabtu (5/9) pukul 00.01 WIB. Meskipun visual letusan pada erupsi terbaru tidak teramati, aktivitas erupsi dilaporkan masih berlangsung saat laporan ini dibuat.

Sebelumnya, aktivitas Anak Krakatau telah terdeteksi sejak Jumat dini hari. Erupsi pertama tercatat pada pukul 04.11 WIB dengan amplitudo maksimum 33 mm dan durasi 14 detik.

Aktivitas Gunung Anak Krakatau kemudian meningkat dengan erupsi-erupsi berikutnya yang terekam seismograf dengan amplitudo dan durasi yang bervariasi.

Puncak aktivitas sempat terekam pada pukul 05.46 WIB, di mana kolom abu teramati setinggi sekitar 300 meter di atas puncak atau sekitar 457 meter di atas permukaan laut.

Kolom abu berwarna hitam pekat ini mengarah ke barat dan barat laut. Aktivitas erupsi kembali tercatat pada Jumat malam, antara lain pada pukul 22.03 WIB, 22.11 WIB, 22.42 WIB, dan 22.53 WIB.

Laporan MAGMA Indonesia mencatat erupsi menerus berlangsung sejak Jumat (4/9/2026) pukul 23:07 WIB. Kondisi ini diinterpretasikan sebagai "Lava Fountain" atau lava air mancur, disertai suara dentuman dan gemuruh yang terdengar dari Pos GAK Pasauran.