JAKARTA - Harga emas dan perak diperkirakan menghadapi gejolak signifikan pekan ini, dengan keputusan suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (The Fed) menjadi penentu arah pergerakan komoditas tersebut.
Pada perdagangan Senin (14/9/2026) pukul 06.59 WIB, harga emas tercatat melemah 0,35% merujuk data Refinitiv.
Pelemahan ini melanjutkan tren negatif pekan lalu, di mana harga emas secara keseluruhan jatuh 1,83%, meskipun sempat ditutup menguat 0,73% ke level US$ 4.347,32 per troy ons pada Jumat (11/9/2026).
Salah satu pemicu pelemahan emas pada pekan lalu adalah kenaikan inflasi di AS. Data menunjukkan inflasi konsumen pada Agustus naik 0,4% secara bulanan, lebih tinggi dari kenaikan 0,1% pada Juli.
Secara tahunan, inflasi AS berada di level 3,4%, sesuai dengan perkiraan pasar. Kondisi ini meningkatkan spekulasi pasar bahwa The Fed akan kembali menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin.
Apabila The Fed terus fokus memerangi inflasi melalui pengetatan kebijakan moneter, kenaikan suku bunga berpotensi mengerek imbal hasil US Treasury dan memperkuat dolar AS.
Penguatan dolar biasanya membuat emas kurang menarik bagi investor karena komoditas ini tidak memberikan imbal hasil.
Di tengah potensi tekanan dari kebijakan The Fed dan penguatan dolar AS, permintaan emas dari Tiongkok menjadi salah satu penopang utama.
Laporan menunjukkan Tiongkok membeli lebih dari 40 ton emas melalui pasar over-the-counter (OTC) London pada Juni, yang merupakan pembelian bulanan terbesar kedua sejak awal tahun 2025.


.png)
