JAKARTA - Polisi hingga kini belum berhasil mengungkap identitas pria yang ditemukan meninggal dunia di dalam gardu listrik Light Rail Transit (LRT) Pancoran, Jakarta Selatan.

Proses identifikasi terhambat karena sidik jari jenazah tidak dapat terbaca dan wajah korban tidak dikenali.

Kepala Seksi Hubungan Masyarakat (Kasi Humas) Polres Metro Jakarta Selatan, AKP Joko Adi, menyatakan bahwa Tim Indonesia Automatic Fingerprint Identification System (Inafis) telah dikerahkan untuk membantu proses identifikasi. Namun, upaya tersebut belum membuahkan hasil.

"Terkait temuan mayat di dalam gardu listrik, ya. Jadi hingga saat ini belum diketahui identitas si mayat itu. Karena sidik jarinya tidak kebaca. Kemudian wajahnya tidak dikenali, kan begitu. Sampai saat ini belum diketahui," kata AKP Joko Adi kepada wartawan, Rabu (2/9/2026).

Joko menambahkan, meskipun Tim Inafis telah melakukan pemeriksaan di lokasi, kondisi sidik jari korban tidak memungkinkan polisi untuk mendapatkan identitasnya. "Kalau Inafis, kalau sidik jari masih ada, kan tentunya bisa diketahui siapa yang bersangkutan, kan," jelasnya.

Selain kendala identifikasi, polisi juga belum menerima laporan orang hilang yang diduga berkaitan dengan temuan jenazah tersebut.

Hingga Rabu (2/9/2026), belum ada pihak keluarga yang melaporkan kehilangan anggota keluarganya ke kepolisian.

Jenazah pria tersebut ditemukan di dalam gardu listrik LRT Pancoran pada Selasa (1/9) malam. Warga sekitar lokasi sebelumnya melaporkan mencium bau menyengat dan melihat banyak lalat di sekitar gardu.

Berdasarkan posisi korban yang ditemukan di dalam gardu, polisi menduga korban meninggal akibat tersengat aliran listrik bertegangan tinggi.