BOGOR – Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Griya Cendekia Cileungsi, Kabupaten Bogor, menjelaskan pentingnya penyusunan Kurikulum Satuan Pendidikan (KSP) secara mandiri untuk menyesuaikan proses pembelajaran dengan karakteristik warga belajar yang beragam.
Mengutip laman resmi PKBM Griya Cendekia di griyacendekia.sch.id, kurikulum pendidikan kesetaraan tahun ajaran 2026/2027 menggunakan pendekatan Kurikulum Merdeka yang disesuaikan dengan kerangka kebijakan pendidikan terbaru.
Penyesuaian tersebut mencakup beban Satuan Kredit Kompetensi (SKK), penguatan Profil Pelajar Pancasila, serta penguatan muatan pemberdayaan dan keterampilan bagi warga belajar.
Dalampendidikan kesetaraan, beban pembelajaran dinyatakan dalam SKK. Satu SKK setara dengan satu jam tatap muka, dua jam tutorial, atau tiga jam belajar mandiri.
Khusus Program Paket C, total beban belajar mencapai 132 SKK yang terbagi menjadi 46 SKK pada Fase E atau kelas 10 dan 86 SKK pada Fase F atau kelas 11–12.
Struktur pembelajaran juga memberikan ruang bagi kegiatan intrakurikuler, kokurikuler melalui pemberdayaan dan keterampilan, serta muatan lokal yang dapat disesuaikan dengan potensi daerah.
PKBM Griya Cendekia menyebut karakteristik warga belajar menjadi salah satu alasan utama setiap satuan pendidikan perlu menyusun KSP secara mandiri.
Warga belajar pada program Paket A, B, dan C memiliki latar belakang yang beragam, baik dari sisi usia, pekerjaan, kesiapan belajar maupun motivasi.
Dengan penyusunan kurikulum secara mandiri, layanan pendidikan dapat disesuaikan dengan kondisi nyata dan kebutuhan warga belajar di masing-masing PKBM.
