SINERGIUPDATE - Gelaran Piala Dunia 2026 menyisakan cerita kelam bagi kapten Timnas Argentina, Lionel Messi. Selain gagal mempertahankan gelar juara usai ditundukkan Spanyol di laga final, pemain bintang tersebut ternyata sempat menjadi sasaran dua kali ancaman pembunuhan dan teror bom selama kompetisi berlangsung.
Ancaman pertama terjadi menjelang laga pamungkas Grup J antara Argentina melawan Yordania. Sebelum laga dimulai, seseorang menelepon pihak Bandara Dallas dan mengancam akan menerobos Levi's Stadium membawa granat serta senjata api dengan target spesifik Lionel Messi.
Teror kedua muncul jelang bentrokan babak 16 besar antara Argentina dan Mesir. Seorang tersangka mengunggah pesan di media sosial yang mengancam akan meledakkan diri menggunakan empat bom di Stadion Atlanta. Saat pertandingan berlangsung, polisi kembali menerima panggilan telepon yang mengklaim adanya tiga bom tersembunyi di tempat sampah area tribune.
Pihak kepolisian segera melakukan penyisiran menyeluruh menggunakan anjing pelacak. Hasil pemeriksaan memastikan seluruh ancaman tersebut merupakan alarm palsu, sehingga keselamatan Messi dan penonton dapat terjamin.
Meski selamat dari ancaman teror, Messi harus mengakhiri turnamen dengan hasil mengecewakan. Gol tunggal Ferran Torres di laga final memastikan Spanyol keluar sebagai juara sekaligus menggagalkan ambisi Argentina mematahkan dua 'kutukan' sejarah Piala Dunia.
Kutukan pertama berkaitan dengan peringkat FIFA. Terhitung sejak 1992, tidak ada tim yang mampu menjuarai Piala Dunia ketika memasuki kompetisi sebagai pemuncak peringkat FIFA. Argentina, yang menduduki posisi pertama FIFA per 11 Juni 2026, mengalami nasib serupa seperti Jerman pada 1994 dan Brasil pada 1998.
Kutukan kedua adalah kegagalan mempertahankan gelar juara secara berturut-turut (back-to-back). Selama 64 tahun, belum ada negara yang mampu mengulangi rekor Brasil saat menjuarai edisi 1958 dan 1962.
Kekalahan Argentina dari Spanyol mengulangi catatan kelam Albiceleste pada edisi 1990, serta jejak Brasil (1998) dan Prancis (2022) yang sama-sama tumbang di partai puncak saat berstatus sebagai juara bertahan.(*)
.png)

