JAKARTA - Sejumlah outlet Pertashop di seluruh Indonesia menghadapi ancaman penutupan, AKIBAT lonjakan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertamax yang membuat konsumen beralih ke BBM bersubsidi, yaitu Pertalite.

Demikian dikatakan Ketua Umum Dewan Pimpinan Himpunan Pertashop Merah Putih Indonesia (HPHMI), Steven.

Dia mengungkapkan bahwa sebelum harga Pertamax mengalami kenaikan signifikan, salah satu outlet Pertashop mampu menjual hingga 400 liter per hari.

Namun, setelah harga BBM dengan RON 92 itu melonjak, angka penjualan anjlok drastis menjadi sekitar 100 liter per hari. Maka, yang terjadi adalah disparitas itu menekan kelayakan usaha.

"Ada selisih harga, kemudian permintaan mulai bergeser dari produk nonsubsidi menjadi ke produk subsidi. Volume penjualan menurun, biaya per liter juga akan naik, dan juga outlet akan terancam tutup," ujar Steven.

Situasi ini diperparah dengan maraknya penjualan BBM subsidi oleh pedagang eceran yang menawarkan harga lebih murah dibandingkan Pertamax.

Padahal, HPHMI menilai Pertashop seharusnya dapat diberdayakan untuk turut menjual BBM subsidi, mengingat jaringannya yang sudah tersebar di 6.500 outlet di seluruh Indonesia.

"Penertiban eceran. Karena sudah ada jaringan kami, Pimpinan, di seluruh wilayah pelosok Indonesia. Kenapa tidak dimanfaatkan? Sebab kehadiran kami tentunya membawa hal-hal positif bagi daerah di mana kami berada. Harap ini menjadi pertimbangan, Pimpinan," tegas Steven.

Data dari PT Pertamina (Persero) mencatat adanya pergeseran konsumsi BBM sejak Pertamax mengalami kenaikan harga.