BOGOR – Penanganan Anak Tidak Sekolah (ATS) membutuhkan pendekatan yang tidak hanya berfokus pada pengembalian anak ke bangku sekolah, tetapi juga mempertimbangkan kondisi sosial, ekonomi, usia, serta kebutuhan masing-masing anak.
Praktisi Pendidikan sekaligus Founder PKBM Griya Cendekia, Dr. H. Susari, M.A., menilai Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) memiliki posisi strategis dalam membantu pemerintah menangani persoalan ATS hingga ke tingkat masyarakat.
Menurut Susari, PKBM dapat menjadi salah satu ujung tombak karena berhadapan langsung dengan masyarakat di tingkat akar rumput.Â
Peran PKBM tersebut antara lain dilakukan melalui penjangkauan keluarga, memberikan motivasi kepada anak untuk kembali mendapatkan pendidikan, serta menyediakan layanan pendidikan yang lebih fleksibel.
Dalam naskahnya mengenai strategi penanganan ATS, Susari menjelaskan bahwa tidak semua anak memiliki kondisi yang memungkinkan untuk kembali mengikuti pendidikan formal.Â
Karena itu, diperlukan pilihan layanan pendidikan yang disesuaikan dengan karakteristik dan kondisi anak.
Pendidikan Kesetaraan Jadi Alternatif
Pendidikan kesetaraan melalui Paket A, Paket B, dan Paket C menjadi salah satu jalur penting dalam penanganan ATS.
Program tersebut dapat menjadi alternatif bagi anak yang memiliki keterbatasan waktu, sudah bekerja, memiliki tanggung jawab keluarga, atau telah melewati usia sekolah formal.


.png)

