JAKARTA - Kabar mengejutkan datang dari Bitcoin Depot, perusahaan penyedia ATM Bitcoin yang terdaftar di bursa Nasdaq. Pasalnya, perusahaan penyedia jasa ATM Bitcoin ini secara resmi mengajukan perlindungan kebangkrutan.Â
Keputusan Bitcoin Depot ini menandai penghentian total seluruh layanan yang sebelumnya disediakan oleh perusahaan tersebut.
Perusahaan Bitcoin Depot yang berbasis di Atlanta ini mengajukan pailit secara sukarela di Pengadilan Kebangkrutan AS, Texas, pada Senin waktu setempat.
Langkah ini akan diikuti dengan penutupan operasional serta penjualan seluruh aset perusahaan sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.
Seluruh jaringan ATM milik Bitcoin Depot dilaporkan sudah dalam kondisi tidak aktif atau offline. Padahal, pada tahun lalu perusahaan ini memiliki jangkauan luas dengan mengoperasikan lebih dari 9.200 kios ATM di Amerika Serikat, Kanada, dan Australia.
Laporan kebangkrutan ini terjadi setelah perusahaan mengumumkan laporan kinerja kuartal I 2026 yang menunjukkan penurunan pendapatan hingga 49% secara tahun-ke-tahun (YoY).
Pada periode yang sama, perusahaan mencatat kerugian sebesar US$9,5 juta, berbanding terbalik dengan laba US$12,2 juta pada periode sebelumnya. Laba kotor juga anjlok 85% menjadi US$45 juta.
Bitcoin Depot menyalahkan regulasi yang kompleks atas keruntuhan bisnisnya. "Negara bagian memberlakukan kewajiban kepatuhan yang makin ketat, termasuk batasan transaksi baru, dan di beberapa yurisdiksi, pembatasan atau larangan langsung terhadap operasi BTM (Bitcoin ATM). Operator menghadapi peningkatan litigasi dan penegakan peraturan," kata Alex Holmes, CEO Bitcoin Depot, dalam siaran pers yang dikutip dari CoinDesk.
Pengembangan aturan terbaru telah berdampak pada bisnis dan keuangan Bitcoin Depot. Di bawah kondisi saat ini, model bisnis perusahaan tidak bisa bertahan.


.png)
