JAKARTA - Harga emas dunia mengakhiri pekan perdagangan terakhir dengan catatan positif, meski belum mampu sepenuhnya menutupi pelemahan dalam tiga pekan berturut-turut.

Pada perdagangan Jumat (11/9/2026), harga emas dunia ditutup menguat 0,73% ke posisi US$4.347,31 per troy ons, demikian data Refinitiv.

Penguatan ini menjadi titik balik setelah emas sempat mengalami tekanan tajam pada hari-hari sebelumnya.

Pelaku pasar mulai melakukan pembelian pada harga emas yang dianggap rendah, membantu logam mulia ini menjauh dari posisi terendahnya dalam sepekan.

Namun, secara mingguan, harga emas masih membukukan pelemahan sebesar 1,82%, melanjutkan tren penurunan selama tiga pekan.

Tekanan terhadap emas sepanjang pekan ini utamanya dipicu oleh meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga oleh bank sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve (The Fed).

Ekspektasi ini semakin menguat pasca-rilis data inflasi konsumen AS yang menunjukkan tekanan harga yang masih tinggi.

Indeks Harga Konsumen (Consumer Price Index/CPI) AS pada Agustus 2026 tercatat naik 0,4% secara bulanan, melampaui kenaikan 0,1% pada Juli. Secara tahunan, inflasi AS bertahan di level 3,4%.

Inflasi inti, yang tidak memasukkan harga pangan dan energi, tercatat sebesar 2,4%, masih berada di atas target The Fed sebesar 2%.