JAKARTA - Harga emas mengalami kejatuhan signifikan lebih dari 1% pada penutupan perdagangan Kamis (10/9/2026), dipicu oleh data inflasi Amerika Serikat (AS) yang lebih kuat dari perkiraan dan kenaikan harga minyak.

Anjloknya harga emas ini akibat meningkatkan spekulasi pasar bahwa bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), akan kembali menaikkan suku bunga acuannya pada pertemuan pekan depan.

Berdasarkan data Refinitiv, harga emas ditutup pada level US$ 4315,69 per troy ons, mencatat penurunan tajam sebesar 1,93%.

Pelemahan ini berbanding terbalik dengan penguatan 1,06% yang dicatatkan pada hari Rabu sebelumnya.

Pada Jumat (11/9/2026) pukul 06.24 WIB, harga emas sempat sedikit bergerak naik menjadi US$ 4315,8, menguat tipis 0,003%.

Kyle Rodda, analis pasar keuangan senior Capital.com, menjelaskan bahwa data Producer Price Index (PPI) AS menunjukkan adanya peningkatan tekanan inflasi yang mendasari perekonomian Negeri Paman Sam.

Salah satu faktor utama pemicunya adalah kenaikan biaya energi. "Data PPI menunjukkan adanya sedikit peningkatan inflasi yang mendasari ekonomi AS, dan sebagian disebabkan oleh kenaikan biaya energi," ujar Rodda.

Data dari Departemen Tenaga Kerja AS mengonfirmasi tren inflasi tersebut. Inflasi harga produsen AS untuk permintaan akhir tercatat naik 0,4% pada bulan lalu, menyusul kenaikan 0,1% pada Juli yang juga telah direvisi naik.

Perubahan ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter The Fed menjadi respons langsung atas data inflasi ini.