JAKARTA - Harga emas sempat mencatat kenaikan lebih dari 1% pada perdagangan Rabu (9/9/2026), namun prospeknya hari ini dihadapkan pada sejumlah tantangan.
Berdasarkan data Refinitiv, harga emas ditutup pada posisi US$4.400,49 per troy ons, melesat 1,06%. Kenaikan ini mengakhiri tren negatif tiga hari beruntun yang menyebabkan emas ambruk 2,7%.
Namun, tren kenaikan tersebut tidak bertahan lama. Pada Kamis (10/9/2026) pukul 06.47 WIB, harga emas dilaporkan mulai melandai dengan penurunan 0,16% menjadi US$4.393,28 per troy ons.
"Pasar emas mendapat sedikit dukungan karena dolar AS belakangan ini berada di bawah tekanan," ujar David Meger, Direktur Perdagangan Logam di High Ridge Futures, kepada Reuters.
Pelemahan dolar AS memang membuat emas yang dihargai dalam dolar menjadi lebih terjangkau bagi pemegang mata uang lain.
Investor juga turut mencermati lonjakan harga minyak yang menembus US$100 per barel di tengah memanasnya konflik di Timur Tengah.
Meski demikian, dolar AS dilaporkan mulai menunjukkan tren penguatan kembali pada hari ini. Hal ini berpotensi menekan harga emas.
Indeks dolar AS yang sebelumnya melemah ke level 98,78 pada perdagangan kemarin, kini bergerak naik ke 98,82.
Penguatan dolar ini secara otomatis membuat harga emas menjadi lebih mahal bagi investor dengan mata uang selain dolar. Faktor lain yang dapat menekan emas adalah lonjakan imbal hasil US Treasury.


.png)
