JAKARTA - Nilai tukar rupiah kembali mengalami pelemahan pada perdagangan Rabu, 2 September 2026. Mata uang Garuda tercatat melemah 19 poin ke level Rp 17.763 per dolar Amerika Serikat.

Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah dipicu oleh kombinasi tekanan dari faktor domestik dan internasional.

"Pada perdagangan sore ini, rupiah ditutup melemah 19 poin dari penutupan sebelumnya di level Rp 17.744," ujar Ibrahim kepada wartawan, Rabu (2/9/2026).

Tekanan terhadap rupiah terjadi di tengah kekhawatiran kenaikan inflasi di dalam negeri. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Indonesia pada Agustus 2026 sebesar 0,21 persen secara bulanan, berbalik dari deflasi 0,14 persen pada Juli.

Secara tahunan, inflasi mencapai 3,19 persen, naik dari 2,88 persen pada periode sebelumnya. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang utama kenaikan inflasi, yang berpotensi menekan daya beli masyarakat.

Meskipun demikian, kinerja ekspor masih menjadi penopang ekonomi. Ekspor Indonesia pada Juli 2026 tercatat sebesar 26,22 miliar dolar AS, naik 6,05 persen secara tahunan. Ekspor nonmigas tumbuh 6,84 persen menjadi 25,45 miliar dolar AS.

Dalam proyeksinya, Gubernur Bank Indonesia yang baru ditunjuk, Destry Damayanti, memperkirakan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) tahun 2027 berada di kisaran 5,2-6 persen.

Ia juga memprediksi nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp 17.300 - Rp 17.800 per dolar AS pada tahun depan, dengan inflasi tetap dalam sasaran 2,5 persen.

Proyeksi ini didukung oleh NPI yang sehat, imbal hasil investasi yang menarik, perkembangan pasar keuangan, serta cadangan devisa yang memadai.