JAKARTA – Nilai tukar rupiah ditutup menguat 37 poin ke posisi Rp17.642 per dolar Amerika Serikat pada perdagangan Jumat, 4 September 2026. Namun, prospek mata uang Garuda untuk pekan depan diprediksi fluktuatif.
Untuk perdagangan Senin mendatang, rupiah diperkirakan bergerak dalam rentang Rp17.640 hingga Rp17.690, dengan potensi pelemahan.
Sementara itu, dalam sepekan ke depan, pergerakan nilai tukar rupiah diproyeksikan berada di kisaran Rp17.550 hingga Rp17.850.
Analis Keuangan, Ibrahim menyoroti perkembangan konflik antara Amerika Serikat dan Iran sebagai salah satu faktor utama yang akan terus dicermati pasar.
Eskalasi ketegangan meningkat pasca serangan AS terhadap sejumlah target di Iran, termasuk aset militer di sekitar Selat Hormuz.
Iran merespons dengan melancarkan serangan rudal dan drone terhadap posisi AS dan sekutunya di kawasan Teluk.
"Selat Hormuz tetap menjadi fokus utama para pelaku pasar. Iran telah memperluas pembatasan pelayaran internasional di jalur perairan tersebut, sehingga memicu kekhawatiran bahwa gangguan dapat terus berlanjut dan memperketat pasokan di pasar minyak global," ujarnya.
Selain isu geopolitik, pasar juga mencermati arah kebijakan Federal Reserve (The Fed). Pernyataan dovish dari Gubernur The Fed Christopher Waller memberikan sentimen positif, membuka peluang perubahan kebijakan suku bunga pada September.
Waller menyatakan melihat adanya tanda-tanda disinflasi dalam data terbaru dan keputusan suku bunga akan bergantung pada data inflasi Agustus. Ia pun akan mendukung keputusan mempertahankan suku bunga jika data inflasi menunjukkan kemajuan.


.png)
