JAKARTA - Pasar saham Amerika Serikat (AS) mengalami penurunan pada Senin (1/9/2026), dipicu serangan militer AS ke Iran yang kembali memanaskan situasi Timur Tengah.

Eskalasi ini menyebabkan lonjakan harga minyak dan meningkatkan probabilitas Federal Reserve (The Fed) yang menaikkan suku bunga pada pertemuan September 2026.

Indeks Dow Jones Industrial Average (^DJI) ditutup melemah 0,7%, sementara S&P 500 (^GSPC) turun 0,3%. Indeks Nasdaq Composite (^IXIC) yang didominasi saham teknologi juga terpangkas 0,1%.

Meskipun demikian, ketiga indeks utama tersebut masih membukukan kenaikan solid sepanjang bulan Agustus. S&P 500 mencatat kenaikan lebih dari 2,5%, Nasdaq naik lebih dari 3%, dan Dow Jones menguat 1,3% di bulan yang sama.

Ketegangan di Timur Tengah kembali membayangi pasar saham setelah AS menyerang peluncur roket Iran yang diduga hendak mengirim ranjau ke Selat Hormuz.

Kekhawatiran eskalasi konflik mendorong harga minyak mentah Brent melonjak di atas US$88 per barel. Perang di Iran menjadi salah satu faktor utama yang terus menghidupkan kekhawatiran inflasi.

Ketua The Fed, Kevin Warsh, dalam pidatonya di Jackson Hole, Wyoming, pada Jumat lalu, menyatakan bahwa inflasi masih terlalu tinggi dan bank sentral masih memiliki "pekerjaan yang harus dilakukan".

Akibatnya, pelaku pasar meningkatkan taruhan mereka terhadap kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin pada pertemuan berikutnya menjadi 62%, naik dari sekitar 40% seminggu sebelumnya.

Dengan musim laporan keuangan perusahaan yang sebagian besar telah berlalu dan data ekonomi yang relatif tenang pada Senin (1/9/2026).