JAKARTAÂ - Harga emas mengalami penurunan signifikan sebesar 1% pada penutupan perdagangan pekan lalu, Jumat (4/9/2026), menyentuh level US$ 4.427,7 per troy ons.
Anjloknya harga logam mulia ini dipicu oleh data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) yang dirilis lebih kuat dari perkiraan pasar.
Data yang dirilis oleh Biro Statistik Tenaga Kerja AS menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja yang pesat pada bulan Agustus 2026, dengan penambahan 162.000 posisi baru.
Angka ini merupakan yang terbesar dalam lima bulan terakhir dan jauh melampaui ekspektasi pasar sebesar 56.000 pekerjaan. Tingkat pengangguran di AS pun dilaporkan stabil di angka 4,1%.
Penguatan data pasar tenaga kerja AS ini meningkatkan ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan kembali menaikkan suku bunga kebijakannya dalam rapat yang dijadwalkan pada 15-16 September mendatang.
Kenaikan suku bunga The Fed umumnya membuat aset yang tidak memberikan imbal hasil, seperti emas batangan, menjadi kurang menarik bagi investor.
"Emas mengalami penurunan tajam karena angka utama yang sangat kuat dan laporan secara keseluruhan yang solid membuat kenaikan suku bunga pada September jauh lebih mungkin terjadi, kecuali kita mendapatkan laporan CPI yang lemah," ujar Tai Wong, seorang analis independen.
Saat ini, harga kontrak berjangka suku bunga jangka pendek menunjukkan sekitar 65% peluang kenaikan suku bunga oleh The Fed, naik dari sekitar 55% sebelum laporan ketenagakerjaan dirilis.
Pelemahan harga emas pada Jumat lalu memutus tren positif yang sempat terjadi selama dua hari sebelumnya, di mana logam mulia ini berhasil menguat 3,3%. Dalam sepekan, harga emas tercatat terkoreksi 0,56%, menandai dua pekan beruntun pelemahan.


.png)
