JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Kamis (27/8/2026).

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ini terjadi seiring pasar menantikan hasil seleksi calon pemimpin baru Bank Indonesia (BI).

Berdasarkan data Refinitiv, pada pembukaan perdagangan pagi ini, nilai tukar rupiah tercatat melemah 0,31% ke posisi Rp17.750 per dolar AS.

Posisi ini membalikkan penguatan yang terjadi pada perdagangan Rabu (26/8/2026), nilai tukar rupiah ditutup terapresiasi 0,06% ke level Rp17.695 per dolar AS.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 09.00 WIB terpantau melemah 0,05% ke posisi 99,119. Pelemahan DXY berbalik arah setelah sebelumnya ditutup menguat 0,25%.

Meskipun mengalami koreksi tipis pada perdagangan pagi ini, dolar AS masih bergerak di sekitar level tertinggi dalam sepekan terakhir.

Penguatan greenback sebelumnya dipicu oleh data inflasi AS yang sedikit lebih tinggi dari perkiraan pasar.

Indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (Personal Consumption Expenditures/PCE) AS tercatat naik 3,7% secara tahunan pada Juli, tidak berubah dari Juni dan sedikit melampaui konsensus pasar yang memprediksi 3,6%.

Data inflasi ini menjaga ekspektasi kenaikan suku bunga oleh bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) tetap terbuka, yang berimplikasi pada penyempitan ruang penguatan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.