BOGOR - Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim bersama Ketua TP PKK Kota Bogor, Yantie Rachim, secara resmi membuka Festival Kopi Legendaris di Lapangan Sempur, yang merupakan rangkaian kegiatan Festival Merah Putih (FMP) pada Jumat (21/8/2026).
Lewat festival ini, Dedie Rachim ingin menegaskan kembali jejak sejarah Kota Bogor yang tak terpisahkan dari keberadaan kopi di Indonesia, bahkan menjadi titik awal penting persebaran biji kopi di Nusantara.
Proses aklimatisasi tanaman kopi, yang memiliki nilai ekonomi tinggi, pertama kali dilakukan pada masa kolonial di Kota Bogor, dengan pengembangan awal di area yang kini menjadi Kebun Raya Bogor.
Keberadaan produksi biji kopi dan berbagai acara bertema kopi, termasuk Festival Kopi Legendaris, menjadi bagian dari upaya penguatan Bogor menuju predikat City of Gastronomy.
Dalam sambutannya, Dedie Rachim menuturkan bahwa kopi pertama kali mendarat di Bogor pada tahun 1817.
"Bogor punya sejarah yang lekat dengan kopi. Festival Kopi Legendaris ini tidak lepas dari sejarah, karena Bah Sipit, kopi legendaris di Kota Bogor, sudah ada sejak tahun 1925 dan dianggap sebagai salah satu pelopor perkopian Bogor," ujar Dedie.
Sebagai kota yang terus memperkuat diri sebagai City of Gastronomy, Dedie Rachim menekankan bahwa Bogor telah memiliki pondasi kuat untuk membangun ekosistem perkopian.
"Beberapa merek kopi di Bogor sudah terkenal dan menjadi bagian dari gastronomi. Kopi adalah identitas kota terkait gastronomi, jadi ada kaitan erat," terangnya.
Senada dengan itu, Ketua Forum Bogor Kota Gastronomi, Haidhar Wurjanto, menyatakan bahwa keberadaan kopi di Bogor sangat mendukung upaya menuju City of Gastronomy. "Saat ini 80 persen dari ekonomi kreatif disokong oleh F&B, termasuk keberadaan kopi," katanya.


.png)

