JAKARTA - Erupsi Gunung Anak Krakatau menimbulkan kekhawatiran terhadap keselamatan transportasi, khususnya penerbangan.
Menteri Perhubungan, Dudy Purwagandhi menegaskan bahwa keselamatan dan keamanan masyarakat menjadi prioritas utama pemerintah dalam menghadapi dampak erupsi Gunung Anak Krakatau yang berpotensi mengganggu operasional transportasi.
Langkah penghentian sementara atau penutupan operasional bandar udara dilakukan sebagai bagian dari upaya mitigasi jika sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau dinilai dapat membahayakan keselamatan penerbangan.
"Apabila memang seperti tadi, masa sebaran masih banyak, kemudian paper test-nya masih positif, maka kami tidak akan memaksakan bandara tersebut dibuka atau pengoperasian pesawat dilakukan," ujar Menhub saat memantau langsung Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Minggu (6/9/2026).
Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Udara terus memantau perkembangan aktivitas vulkanik dan penyebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau, termasuk dampaknya terhadap ruang udara dan operasional bandar udara.
Berdasarkan NOTAM A3348/26, Bandara Soekarno-Hatta ditutup sementara pada Minggu, 6 September 2026, pukul 13.23–17.30 WIB akibat sebaran abu vulkanik Gunung Krakatau.
Penutupan ini menggantikan Notam A3346/26 dan dilakukan sebagai langkah keselamatan penerbangan menyusul adanya indikasi sebaran abu vulkanik.
Penutupan serupa juga diberlakukan di Bandara Halim Perdanakusuma, Bandara Radin Inten II Lampung, Bandara Husein Sastranegara, Bandara Budiarto Curug, Bandara Pondok Cabe, Bandara Taufik Kiemas, serta Bandara Atung Bungsu.
Akibat penutupan ini, sekitar 150.000 penumpang tertahan, dengan 467 penerbangan terdampak, terdiri dari 58 penerbangan internasional dan 409 penerbangan domestik.


.png)
