JAKARTA - Fenomena generasi muda atau Gen Z yang memilih menolak promosi jabatan demi keseimbangan hidup mulai menjadi perhatian.
Kenaikan posisi yang selama ini identik dengan keberhasilan, kini bagi sebagian gen Z, tidak lagi menjadi prioritas utama jika harus mengorbankan waktu untuk keluarga, kehidupan pribadi, kesehatan, dan pengembangan diri.
Rahmi Damayanti, M.Si., dosen Ilmu Keluarga dan Konsumen IPB University, menjelaskan bahwa fenomena ini perlu dilihat secara utuh.
Keputusan tersebut tidak serta-merta mencerminkan ketidakambisian atau keengganan Gen Z untuk berkembang. Sebaliknya, ini menandakan adanya pergeseran orientasi makna keberhasilan dalam bekerja.
"Bagi sebagian Gen Z, keberhasilan tidak lagi semata-mata diukur dari kenaikan jabatan, besarnya tanggung jawab, atau posisi struktural. Namun, juga dari kemampuan memperoleh keseimbangan antara pekerjaan, keluarga, kehidupan pribadi, kesehatan, dan pengembangan diri," ujar Rahmi, Selasa (27/2/2024).
Dari perspektif ilmu keluarga, pekerjaan merupakan salah satu bagian penting dalam kehidupan individu dan keluarga.
Ketika tuntutan pekerjaan semakin besar, sementara waktu dan energi untuk keluarga serta kehidupan personal semakin berkurang, seseorang wajar mempertimbangkan kembali pilihan kariernya.
"Keputusan menolak promosi dapat menjadi bentuk prioritas terhadap kualitas hidup, bukan semata-mata menunjukkan keengganan untuk menerima tanggung jawab atau berkembang dalam karier. Terlebih lagi, Gen Z memasuki dunia kerja dalam konteks perubahan besar seperti digitalisasi, tuntutan kerja yang semakin cepat, fleksibilitas kerja, serta meningkatnya kesadaran mengenai pentingnya kesehatan dan kesejahteraan," tambah Rahmi.
Namun, Rahmi mengingatkan agar fenomena ini tidak digeneralisasi. Masih banyak Gen Z yang memiliki aspirasi untuk memimpin, namun menginginkan model kepemimpinan yang lebih fleksibel, manusiawi, dan kolaboratif tanpa harus mengorbankan kehidupan pribadi atau keluarga.


.png)
