JAKARTA - Industri tekstil Indonesia mulai menunjukkan geliat pemulihan setelah periode tekanan yang cukup panjang. Sinyal positif ini sejalan dengan perbaikan neraca perdagangan Indonesia yang kembali mencatat surplus pada Juli 2026.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan Indonesia membukukan surplus sebesar US$120 juta pada Juli 2026.

Capaian ini membalikkan defisit yang terjadi pada dua bulan sebelumnya, yakni defisit US$450 juta pada Juni dan US$1,61 miliar pada Mei 2026.

Nilai ekspor Indonesia pada Juli 2026 tercatat sebesar US$26,22 miliar, sementara impor sebesar US$26,09 miliar. Secara bulanan, ekspor tumbuh 2,98%, melampaui pertumbuhan impor yang hanya 0,72%.

Peningkatan ekspor ini didominasi oleh komoditas nonmigas yang nilainya naik dari US$24,39 miliar menjadi US$25,43 miliar atau tumbuh sekitar 4,26%.

Di sisi lain, impor migas mengalami penurunan signifikan sebesar 17,3%, dari US$4,56 miliar menjadi US$3,77 miliar.

Penurunan ini berkontribusi pada penyusutan defisit perdagangan migas dari US$3,49 miliar pada Juni menjadi US$2,98 miliar pada Juli. Sementara itu, perdagangan nonmigas mencatat surplus US$3,10 miliar, sedikit meningkat dari bulan sebelumnya.

Meskipun demikian, secara tahunan, laju pertumbuhan impor masih lebih tinggi dibandingkan ekspor. Ekspor Juli 2026 naik 6,05% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, namun impor melonjak 27,02%.

Di tengah membaiknya neraca perdagangan, industri tekstil turut berkontribusi pada penerimaan devisa nasional dari ekspor nonmigas.