JAKARTA - Harga emas dunia melesat menembus level tertinggi dalam lebih dari tiga bulan terakhir pada perdagangan Jumat (21/8/2026).

Pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) serta rencana pembelian kembali obligasi pemerintah AS menjadi faktor utama lonjakan harga emas dunia.

Berdasarkan data Refinitiv, harga emas ditutup menguat 1,88% ke level US$4.602,6 per troy ons pada penutupan perdagangan pekan ini.

Bahkan, sepanjang perdagangan pada hari sebelumnya, harga emas sempat menyentuh US$4.631,99 per troy ons, level tertinggi sejak 15 Mei 2026.

Lonjakan signifikan ini sebagian besar disebabkan oleh pelemahan dolar AS. Departemen Keuangan AS mengumumkan rencana untuk memperbesar program pembelian kembali atau buyback obligasi pemerintah.

Program ini bertujuan untuk menjaga kelancaran perdagangan di pasar obligasi, khususnya dengan membeli kembali surat utang berjangka panjang yang jarang diperdagangkan.

Keputusan ini, yang diumumkan pada Rabu (19/8/2026) untuk melipatgandakan pembelian kembali obligasi pemerintah berjangka panjang, diperkuat pernyataan Menteri Keuangan AS Scott Bessent pada Kamis bahwa program tersebut masih dapat diperluas.

Meskipun kebijakan ini membantu meredakan tekanan di pasar obligasi, pelaku pasar mulai mempertanyakan dampaknya terhadap kepercayaan terhadap dolar AS.

Akibatnya, dolar AS bergerak mendekati posisi terendahnya sejak pertengahan Mei. Dalam sepekan, harga emas tercatat melonjak 5,18%, memperpanjang tren penguatan mingguan menjadi tiga pekan berturut-turut.