JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami koreksi tajam pada penutupan perdagangan Rabu (26/8/2026). Indeks utama pasar modal domestik ini tergelincir ke zona merah setelah tak mampu menahan tekanan jual yang masif sejak sesi pagi hingga sore hari.
Data pasar finansial menunjukkan sentimen negatif mendominasi di kalangan pelaku pasar, baik investor ritel maupun institusi.
Penurunan tajam ini tidak hanya dialami oleh IHSG, tetapi juga menyeret hampir seluruh sektor saham lapis pertama dan kedua ke zona pelemahan yang dalam.
Pada penutupan perdagangan, IHSG tercatat melemah signifikan sebesar 95,98 poin atau 1,48 persen, parkir di level 6.405,69.
Tekanan jual yang luar biasa sempat membuat grafik pergerakan harian IHSG berupaya bangkit di zona hijau pada sesi pagi, namun akhirnya kembali jatuh secara konsisten hingga menyentuh titik terendah menjelang akhir jam perdagangan di angka 6.415,20.
Kondisi serupa juga dialami oleh berbagai indeks sektoral dan sub-indeks utama lainnya. Indeks LQ45, yang berisi saham-saham paling likuid di Bursa Efek Indonesia, ambles sebesar 9,40 poin atau turun 1,46 persen ke level 632,55. Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) terkoreksi 3,43 poin atau minus 1,50 persen ke posisi 224,96.
Indeks turunan seperti IDX30 merosot 1,20 persen ke level 354,27, dan IDX80 terjungkal 1,52 persen ke posisi 95,19, semakin memperkeruh rapor merah pasar modal domestik hari ini.
Di tengah gelombang koreksi tajam ini, saham emiten perbankan pelat merah raksasa, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), tetap menjadi salah satu pusat perhatian.
Hal ini terjadi menyusul kasus pemblokiran rekening penggalangan dana oleh organisasi Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) yang turut menyeret bank tersebut.


.png)
