JAKARTA - Prospek kenaikan harga emas dinilai masih cerah di tengah meningkatnya ekspektasi perubahan suku bunga dan pelemahan ekonomi Amerika Serikat (AS). Data perdagangan menunjukkan harga emas di pasar spot dan Comex mencatat penguatan pada penutupan perdagangan Jumat (14/8/2026).
Berdasarkan data Tradingview, harga emas di pasar spot naik 0,59% ke level US$4.376,82 per troy ounce pada penutupan perdagangan Jumat (14/8/2026). Sementara itu, harga emas Comex juga ditutup menguat 0,38% ke level US$4.437,3 per troy ounce. Sepanjang pekan yang sama, harga emas pasar spot menguat 0,84%, sedangkan harga emas Comex naik 0,85%.
Pippa Malmgren, mantan anggota National Economic Council, menjelaskan bahwa daya tarik emas bagi investor tidak banyak berubah. Kekhawatiran investor tertuju pada belanja fiskal AS yang berpotensi di luar kendali, serta potensi pelemahan pertumbuhan ekonomi di berbagai negara.
"Kondisi ini mengindikasikan inflasi," kata Malmgren dikutip dari CNBC International, Minggu (16/8/2026).
Ia menambahkan, kebijakan pemerintahan Presiden AS Donald Trump yang mengejar perang di luar negeri dengan biaya besar, serta dukungannya terhadap mata uang kripto, turut meningkatkan kekhawatiran investor.
Hal ini mendorong investor yang gugup untuk beralih ke metode konservatif guna mempertahankan nilai aset, seperti membeli emas.
Tren peningkatan kepemilikan emas oleh bank sentral di berbagai negara juga menjadi sinyal berkurangnya kepercayaan terhadap uang fiat, terutama dengan pembelian emas yang terus dilakukan oleh Tiongkok.
Patrick Kennedy, pendiri sekaligus managing partner AllSource Investment Management, menyoroti aksi beli emas oleh bank sentral.
People's Bank of China (PBOC) menambah cadangan emas sebanyak 19,9 ton pada Juli 2026, yang merupakan penambahan terbesar dalam satu bulan sejak Oktober 2023. "Catatan tersebut sekaligus memperpanjang akumulasi emas PBOC menjadi 21 bulan berturut-turut," jelas Kennedy.


.png)

